Tiga Tips Menjaga Keamanan Akun Online agar Tidak Mudah Diretas
Keamanan akun online semakin penting karena banyak aktivitas sehari-hari kini bergantung pada internet. Email, media sosial, aplikasi pembayaran, layanan perbankan, hingga penyimpanan cloud dapat menyimpan informasi pribadi yang bernilai.
Masalahnya, ancaman terhadap akun tidak selalu datang melalui teknik peretasan yang rumit. Banyak kasus berawal dari password yang mudah ditebak, penggunaan password yang sama pada banyak layanan, atau pengguna yang terkecoh oleh pesan phishing.
FTC mencatat bahwa email merupakan metode paling banyak digunakan penipu untuk menghubungi konsumen pada 2024. Pesan tersebut sering dibuat seolah-olah berasal dari perusahaan yang dikenal korban agar mereka mau membuka tautan, mengunduh lampiran, atau memberikan informasi pribadi.
Oleh karena itu, memahami dasar keamanan digital menjadi bagian penting dalam menggunakan internet. Pengguna tidak harus menjadi ahli teknologi untuk menjaga akun. Beberapa kebiasaan sederhana sudah dapat meningkatkan perlindungan secara signifikan.
Berikut tiga tips utama untuk menjaga keamanan akun online.
1. Gunakan Password yang Kuat dan Berbeda
Langkah pertama adalah menggunakan password yang sulit ditebak serta berbeda untuk setiap akun.
Menggunakan satu password yang sama memang terasa lebih mudah. Namun, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko apabila password berhasil dicuri. Penyerang dapat mencoba kombinasi username dan password yang sama pada email, media sosial, marketplace, hingga layanan lainnya.
Karena itu, hindari password sederhana seperti nama sendiri, tanggal lahir, nomor telepon, nama hewan peliharaan, atau kombinasi angka seperti “123456”.
FTC menyarankan pengguna membuat password panjang dan sulit ditebak. Salah satu rekomendasinya adalah menggunakan setidaknya 12 karakter. Passphrase dari beberapa kata acak juga dapat membantu membuat password lebih panjang sekaligus lebih mudah diingat.
Selain itu, gunakan password berbeda pada setiap akun penting.
Misalnya, password email sebaiknya tidak sama dengan password Instagram, Facebook, marketplace, atau aplikasi keuangan. Dengan begitu, jika salah satu kredensial bocor, akun lainnya tidak otomatis ikut terancam.
Pengguna dengan banyak akun juga dapat mempertimbangkan password manager. Alat tersebut membantu menyimpan password berbeda tanpa harus menghafal seluruh kombinasinya.
Kebiasaan mengelola password merupakan bagian penting dari keamanan siber. Perlindungan akun tidak hanya ditentukan oleh sistem yang digunakan, tetapi juga oleh cara pengguna menjaga informasi login miliknya.
2. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor atau MFA
Password yang kuat tetap tidak seharusnya menjadi satu-satunya perlindungan akun.
Langkah kedua adalah mengaktifkan Two-Factor Authentication (2FA) atau Multi-Factor Authentication (MFA) pada layanan yang mendukungnya.
MFA meminta pengguna memberikan verifikasi tambahan setelah memasukkan password. Verifikasi tersebut dapat berupa kode dari aplikasi authenticator, security key, sidik jari, pengenalan wajah, atau metode lainnya.
Dengan demikian, apabila seseorang berhasil mengetahui password, ia masih membutuhkan faktor verifikasi kedua untuk mendapatkan akses.
FTC menjelaskan bahwa autentikasi multifaktor membuat penipu lebih sulit masuk ke akun meskipun mereka telah memperoleh username dan password pengguna.
Fitur tersebut terutama penting untuk email utama, media sosial, aplikasi keuangan, penyimpanan cloud, dan layanan yang menyimpan informasi pribadi.
Email layak mendapatkan perhatian khusus karena sering digunakan sebagai pusat pemulihan password akun lain. Jika email utama berhasil diambil alih, pelaku berpotensi mencoba melakukan reset password terhadap layanan yang terhubung.
Karena itu, pengguna sebaiknya membuka pengaturan keamanan pada akun masing-masing dan mencari menu seperti Two-Step Verification, Two-Factor Authentication, atau Multi-Factor Authentication.
Pembahasan lebih lengkap mengenai password, MFA, phishing, serta keamanan akun online juga dapat digunakan sebagai referensi untuk memahami langkah perlindungan akun dari pembajakan.
3. Waspadai Phishing dan Tautan Mencurigakan
Tips ketiga adalah tidak terburu-buru membuka tautan yang diterima melalui email, SMS, WhatsApp, Telegram, maupun media sosial.
Phishing merupakan salah satu metode yang digunakan penipu untuk memperoleh informasi sensitif korban. Pelaku dapat membuat pesan seolah-olah berasal dari bank, marketplace, perusahaan teknologi, atau layanan lain yang sudah dikenal.
Pesan phishing biasanya mencoba membuat korban merasa panik atau harus segera bertindak.
Sebagai contoh, pengguna mungkin menerima pesan yang mengatakan bahwa akun akan diblokir jika tidak melakukan verifikasi dalam waktu tertentu. Pesan kemudian memberikan sebuah tautan menuju halaman login.
Tampilan halaman tersebut dapat dibuat sangat mirip dengan website resmi.
Namun, ketika pengguna memasukkan email dan password, informasi tersebut justru dikirimkan kepada pelaku.
FTC menyarankan agar pengguna tidak membuka tautan maupun mengunduh lampiran dari pesan tidak terduga. Jika pesan terlihat berasal dari perusahaan yang memang digunakan, pengguna sebaiknya membuka aplikasi atau website resmi secara terpisah melalui alamat yang sudah diketahui benar.
Selain itu, selalu periksa nama domain sebelum memasukkan informasi login.
Perbedaan satu atau dua huruf pada alamat website terkadang mudah terlewatkan. Karena itu, desain website yang terlihat profesional bukan jaminan bahwa halaman tersebut asli.
Jangan Memberikan Password dan OTP kepada Orang Lain
Selain ketiga langkah utama tersebut, pengguna juga perlu menjaga kode OTP dan informasi pemulihan akun.
Kode OTP biasanya digunakan untuk memastikan bahwa proses login atau transaksi benar-benar dilakukan oleh pemilik akun. Oleh sebab itu, kode tersebut tidak seharusnya diberikan melalui telepon, chat, maupun email kepada orang lain.
Permintaan seperti “berikan kode yang baru masuk untuk melakukan verifikasi akun” patut dicurigai.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap pihak yang mengaku sebagai customer service. Jika merasa ragu, hentikan percakapan dan hubungi perusahaan melalui saluran resmi.
Kebiasaan seperti memeriksa sumber informasi, melindungi password, tidak memberikan OTP, dan mengenali phishing juga merupakan bagian dari literasi digital. Webpedia menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko serta menggunakan layanan digital secara lebih bijak.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Akun Terlanjur Diretas?
Jika menemukan login dari perangkat yang tidak dikenal atau perubahan pada akun yang tidak dilakukan sendiri, segera ganti password.
Setelah itu, keluarkan seluruh sesi login yang tidak dikenal dan aktifkan MFA apabila sebelumnya belum digunakan.
Periksa juga alamat email pemulihan, nomor telepon, aplikasi pihak ketiga yang terhubung, serta pengaturan keamanan akun.
Jika password yang sama digunakan pada layanan lainnya, password tersebut juga perlu segera diganti.
Tindakan cepat penting karena akun yang berhasil diambil alih dapat digunakan untuk mengakses informasi pribadi, mengirim pesan kepada kontak korban, atau mencoba masuk ke layanan lain.
Kesimpulan
Menjaga keamanan akun online tidak selalu membutuhkan kemampuan teknis tingkat tinggi. Kebiasaan pengguna justru menjadi salah satu lapisan perlindungan terpenting.
Gunakan password panjang dan berbeda untuk setiap akun. Aktifkan autentikasi dua faktor atau MFA pada layanan penting. Selain itu, jangan mudah percaya pada pesan, tautan, atau halaman login yang tidak diketahui keasliannya.
Dengan menerapkan ketiga langkah tersebut secara konsisten, pengguna dapat mengurangi risiko pencurian password, phishing, dan pengambilalihan akun.
Keamanan digital sebaiknya menjadi kebiasaan sehari-hari. Semakin banyak informasi yang disimpan secara online, semakin penting pula menjaga akses terhadap akun tersebut agar tetap berada di tangan pemiliknya.