Ancaman Keamanan Digital Makin Beragam, Ini Serangan yang Paling Sering Terjad
JAKARTA, 9 September 2026 WEBPEDIA Ancaman keamanan digital terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan internet, layanan cloud, aplikasi, media sosial, dan kecerdasan buatan. Sepanjang 2025 hingga 2026, pengguna individu, perusahaan, hingga lembaga publik menghadapi berbagai serangan seperti phishing, pencurian akun, eksploitasi celah keamanan, ransomware, malware, serta penipuan berbasis kecerdasan buatan.
Perubahan tersebut terjadi secara global karena pelaku kejahatan siber terus mencari cara yang lebih cepat untuk memperoleh akses ke akun, perangkat, jaringan, dan data korban. Serangan dapat dilakukan melalui email, pesan singkat, panggilan telepon, situs palsu, aplikasi berbahaya, hingga eksploitasi kelemahan perangkat lunak.
Data terbaru menunjukkan bahwa persoalan keamanan digital tidak lagi hanya berkaitan dengan kata sandi yang dicuri. Celah pada perangkat lunak, rekayasa sosial, ransomware, dan penyalahgunaan teknologi AI kini menjadi bagian penting dari ancaman digital modern.
Eksploitasi Celah Perangkat Lunak Menjadi Pintu Masuk Utama
Salah satu perubahan terbesar dalam lanskap keamanan digital adalah meningkatnya eksploitasi kerentanan atau vulnerability exploitation.
Verizon dalam 2026 Data Breach Investigations Report (DBIR) melaporkan bahwa sekitar 31 persen pelanggaran data dimulai dengan eksploitasi celah perangkat lunak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan tersebut, eksploitasi kerentanan melampaui penggunaan kredensial curian sebagai jalur awal serangan yang paling banyak ditemukan.
Celah keamanan dapat muncul pada sistem operasi, aplikasi web, server, perangkat jaringan, plugin, hingga perangkat yang terhubung ke internet.
Ketika pembaruan keamanan tidak segera dipasang, penyerang dapat memanfaatkan kelemahan tersebut untuk masuk ke dalam sistem.
Masalahnya, waktu antara ditemukannya sebuah kelemahan dan upaya eksploitasi kini semakin pendek. Verizon mencatat bahwa pemanfaatan AI ikut membantu mempercepat proses pencarian dan eksploitasi celah keamanan.
Akibatnya, kebiasaan menunda pembaruan aplikasi atau sistem operasi dapat meningkatkan risiko keamanan.
Phishing Masih Menjadi Ancaman yang Sangat Umum
Walaupun eksploitasi perangkat lunak meningkat, phishing masih menjadi salah satu ancaman yang paling sering ditemui masyarakat.
Phishing merupakan teknik penipuan ketika pelaku menyamar sebagai pihak terpercaya untuk membuat korban memberikan informasi tertentu. Informasi tersebut dapat berupa kata sandi, kode verifikasi, nomor kartu, data pribadi, atau informasi keuangan.
Laporan FBI mengenai kejahatan internet sepanjang 2025 mencatat lebih dari 1 juta pengaduan ke Internet Crime Complaint Center (IC3). Phishing dan spoofing termasuk dalam kelompok pengaduan yang paling sering dilaporkan, bersama pemerasan serta penipuan investasi.
Modus phishing juga semakin beragam.
Jika sebelumnya serangan sering dilakukan melalui email, sekarang pelaku dapat menggunakan:
- pesan WhatsApp atau SMS palsu,
- akun media sosial tiruan,
- situs login palsu,
- tautan promosi,
- kode QR berbahaya,
- panggilan telepon,
- hingga pesan yang dibuat menggunakan AI.
Korban biasanya diarahkan menuju halaman yang tampak seperti situs resmi. Setelah korban memasukkan alamat email, nama pengguna, kata sandi, atau kode OTP, informasi tersebut dapat diteruskan kepada pelaku.
Penipuan melalui SMS dan Telepon Semakin Menonjol
Perubahan perilaku pengguna juga membuat penyerang mulai mengalihkan perhatian ke perangkat mobile.
Verizon melaporkan keberhasilan rekayasa sosial berbasis perangkat mobile seperti pesan teks dan panggilan palsu berada 40 persen lebih tinggi dibanding phishing email tradisional dalam data yang dianalisis untuk DBIR 2026.
Serangan seperti ini sering disebut smishing jika menggunakan SMS atau aplikasi pesan dan vishing jika dilakukan melalui panggilan suara.
Pelaku dapat mengaku berasal dari bank, perusahaan teknologi, jasa pengiriman, layanan pembayaran, instansi pemerintah, atau bahkan rekan kerja.
Tekniknya tidak selalu meminta kata sandi secara langsung. Dalam beberapa kasus, pelaku membangun percakapan terlebih dahulu agar korban percaya sebelum meminta transfer uang atau informasi rahasia.
Karena itu, identitas seseorang yang menghubungi melalui telepon atau pesan sebaiknya tetap diverifikasi melalui saluran resmi.
Kata Sandi Curian Tetap Menjadi Masalah Serius
Meskipun bukan lagi satu-satunya jalur utama untuk memulai serangan, pencurian kredensial masih menjadi ancaman besar.
Kredensial dapat berupa nama pengguna, alamat email, kata sandi, token sesi, atau informasi lain yang digunakan untuk mengakses sebuah akun.
Microsoft dalam Digital Defense Report 2025 menyebut sekitar 97 persen serangan identitas yang diamatinya merupakan password spray attacks. Teknik tersebut mencoba menggunakan sejumlah kata sandi umum terhadap banyak akun untuk mencari kombinasi yang berhasil.
Risiko menjadi lebih besar ketika seseorang menggunakan kata sandi yang sama pada banyak platform.
Misalnya, jika informasi login dari satu layanan bocor, pelaku dapat mencoba kombinasi email dan kata sandi tersebut pada layanan lain. Akibatnya, satu kebocoran dapat berkembang menjadi pengambilalihan beberapa akun.
Penggunaan multi-factor authentication (MFA) menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko tersebut.
Ransomware Masih Menjadi Ancaman bagi Organisasi
Ancaman lain yang tetap menonjol adalah ransomware.
Ransomware merupakan malware yang digunakan untuk mengunci, mengenkripsi, atau mencuri data korban. Pelaku kemudian dapat meminta pembayaran agar korban memperoleh kembali akses terhadap data atau agar informasi yang dicuri tidak dipublikasikan.
Menurut Verizon DBIR 2026, ransomware ditemukan dalam sekitar 48 persen pelanggaran data yang dianalisis.
Sementara itu, FBI menerima lebih dari 3.600 laporan ransomware selama 2025, dengan kerugian yang dilaporkan melebihi US$32 juta. FBI juga menjelaskan angka tersebut belum mencerminkan seluruh dampak seperti gangguan bisnis, kehilangan waktu kerja, pemulihan sistem, dan biaya pihak ketiga.
Serangan ransomware tidak hanya menyasar perusahaan besar.
Sekolah, rumah sakit, usaha kecil, organisasi pemerintah, dan penyedia layanan juga dapat menjadi target apabila sistem mereka memiliki kelemahan yang dapat dimanfaatkan.
Malware dan Pencurian Informasi Tetap Berbahaya
Selain ransomware, terdapat berbagai jenis malware yang dibuat untuk mengambil informasi tanpa diketahui pengguna.
Salah satunya adalah infostealer, yaitu malware yang berfokus mencuri informasi dari perangkat.
Data yang menjadi sasaran dapat meliputi:
- kata sandi yang tersimpan di browser,
- cookie dan sesi login,
- informasi kartu pembayaran,
- dompet cryptocurrency,
- dokumen,
- dan informasi akun lainnya.
Microsoft melaporkan bahwa sistemnya memblokir rata-rata sekitar 4,5 juta file malware baru setiap hari dalam periode yang dicakup Digital Defense Report 2025. Perusahaan tersebut juga menganalisis sekitar 38 juta deteksi risiko identitas per hari.
Data tersebut menggambarkan besarnya skala ancaman yang harus dihadapi layanan digital setiap hari.
Situs Palsu dan Pengalihan Pengguna Menjadi Modus Serangan
Situs palsu juga semakin sulit dibedakan dari halaman resmi.
Pada Juni 2026, FBI memperingatkan mengenai penggunaan Traffic Distribution Systems (TDS) oleh penjahat siber. Teknologi tersebut dapat mengarahkan pengunjung dari iklan, promosi, situs yang telah diretas, atau hasil pencarian menuju situs palsu yang digunakan untuk phishing maupun penyebaran malware.
Dalam skenario seperti ini, korban dapat merasa sedang membuka halaman normal karena tautan awal tampak meyakinkan.
Namun, setelah beberapa kali pengalihan, pengguna bisa berakhir di halaman login palsu atau diminta memasang pembaruan perangkat lunak yang ternyata berisi malware.
Karena itu, pemeriksaan alamat domain tetap penting, terutama sebelum memasukkan kata sandi atau informasi pembayaran.
AI Mulai Digunakan untuk Membuat Penipuan Lebih Meyakinkan
Kecerdasan buatan memberikan manfaat besar bagi berbagai bidang. Namun, teknologi yang sama juga dapat disalahgunakan.
FBI mencatat 22.364 pengaduan terkait AI dalam laporan kejahatan internet 2025 dengan kerugian hampir US$893 juta. Pelaku diketahui menggunakan profil palsu, kloning suara, dokumen identitas, serta video yang dibuat agar terlihat seperti orang sungguhan.
Penggunaan AI membuat beberapa bentuk penipuan semakin sulit dikenali.
Pesan phishing dapat dibuat dengan tata bahasa yang lebih baik. Suara seseorang dapat ditiru. Foto maupun video juga dapat dimanipulasi untuk menciptakan kesan seolah-olah seseorang benar-benar memberikan suatu instruksi.
Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya menjadikan suara, foto, atau video sebagai satu-satunya bukti identitas.
Verifikasi melalui nomor resmi atau komunikasi langsung tetap diperlukan, terutama jika seseorang tiba-tiba meminta uang atau informasi sensitif.
Risiko dari Pihak Ketiga Ikut Meningkat
Keamanan sebuah organisasi juga bergantung pada perusahaan lain yang terhubung dengannya.
Penyedia cloud, vendor perangkat lunak, perusahaan pembayaran, kontraktor, atau mitra bisnis dapat menjadi jalur masuk tidak langsung bagi penyerang.
Verizon mencatat keterlibatan pihak ketiga terdapat pada sekitar 48 persen pelanggaran data dalam DBIR 2026, meningkat sekitar 60 persen dibanding periode sebelumnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa menjaga keamanan sistem internal saja tidak selalu cukup.
Organisasi juga perlu mengevaluasi keamanan vendor, hak akses, integrasi aplikasi, serta data yang diberikan kepada pihak eksternal.
Kerugian Kejahatan Digital Terus Meningkat
Dampak serangan digital bukan sekadar kehilangan akses ke akun.
FBI mencatat lebih dari 1.008.000 pengaduan kejahatan internet sepanjang 2025, dengan total kerugian yang dilaporkan mendekati US$21 miliar di Amerika Serikat. Jumlah pengaduan meningkat dari 859.532 kasus pada tahun sebelumnya.
Angka FBI tersebut merupakan data laporan dari Amerika Serikat dan tidak menggambarkan keseluruhan kasus dunia. Namun, data itu menunjukkan bahwa kejahatan digital memiliki dampak ekonomi yang semakin besar.
Selain kerugian uang, insiden keamanan dapat menimbulkan kebocoran informasi pribadi, hilangnya kepercayaan pelanggan, penghentian layanan, dan biaya pemulihan sistem.
Cara Mengurangi Risiko Ancaman Keamanan Digital
Tidak semua serangan dapat dicegah sepenuhnya. Namun, sejumlah langkah dasar dapat memperkecil peluang keberhasilan serangan.
Pengguna sebaiknya memakai kata sandi yang berbeda untuk setiap akun penting dan mengaktifkan autentikasi multifaktor apabila tersedia. Sistem operasi, browser, aplikasi, plugin, dan perangkat jaringan juga perlu diperbarui secara rutin.
Selain itu, hindari membuka tautan atau lampiran mencurigakan. Periksa kembali domain sebelum melakukan login, terutama setelah membuka sebuah tautan dari email, SMS, media sosial, atau iklan.
Untuk organisasi, pembaruan perangkat lunak perlu disertai pengelolaan akses, backup data, pelatihan keamanan, pengawasan sistem, serta rencana penanganan insiden.
Microsoft menekankan pentingnya organisasi memperkuat sumber daya manusia, mempercepat perbaikan kerentanan, meningkatkan penggunaan autentikasi multifaktor, serta membangun sistem yang tetap dapat beroperasi ketika terjadi gangguan.
Daniel Lawson, SVP Global Solutions Verizon Business, juga menekankan bahwa “the foundational principles of security and strong risk management remain the most effective defense.”
Pesannya sederhana: teknologi serangan dapat berubah, tetapi praktik keamanan dasar tetap memiliki peran besar.
Kesimpulan
Ancaman keamanan digital pada 2026 menunjukkan pola yang semakin kompleks. Eksploitasi celah perangkat lunak kini menjadi salah satu jalur masuk utama dalam pelanggaran data, sementara phishing, pencurian kredensial, ransomware, malware, situs palsu, serta rekayasa sosial masih terus digunakan.
Pada saat yang sama, kecerdasan buatan mulai membantu pelaku membuat penipuan lebih cepat dan meyakinkan.
Kondisi tersebut membuat keamanan digital menjadi tanggung jawab bersama. Pengguna perlu lebih berhati-hati dalam mengelola akun dan informasi pribadi, sedangkan perusahaan perlu memperkuat perlindungan sistem, memperbarui perangkat lunak, mengawasi akses, dan meningkatkan kesiapan menghadapi insiden.
Semakin banyak aktivitas berpindah ke ruang digital, semakin penting pula kemampuan mengenali ancaman sebelum sebuah klik, pesan, atau kelemahan sistem berubah menjadi insiden keamanan yang lebih besar.
Sumber data: Verizon 2026 Data Breach Investigations Report, FBI 2025 Internet Crime Report, FBI Cyber Alerts, dan Microsoft Digital Defense Report 2025.