Jakarta, 9 September 2026 — WEBPEDIA. Teknologi digital semakin mengubah cara pendidikan dan pembelajaran berlangsung di Indonesia maupun dunia. Sekolah, guru, dan peserta didik kini memanfaatkan perangkat digital, platform pembelajaran, internet, hingga kecerdasan artifisial atau AI untuk mengakses materi, mengembangkan metode belajar, serta meningkatkan interaksi di kelas. Perubahan tersebut terus berlangsung karena kebutuhan pendidikan yang lebih fleksibel, merata, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Transformasi ini tidak hanya terlihat dari penggunaan komputer atau internet. Perangkat interaktif, sistem manajemen pembelajaran, video pendidikan, kelas virtual, aplikasi belajar, hingga AI mulai menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.
Di Indonesia, perkembangan tersebut semakin terlihat melalui program digitalisasi pembelajaran yang dijalankan pemerintah. Sementara itu, lembaga internasional mengingatkan bahwa teknologi perlu digunakan sebagai pendukung proses pendidikan, bukan sebagai pengganti peran guru dan interaksi manusia.
Digitalisasi Mulai Mengubah Ruang Kelas
Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya perangkat digital lebih banyak digunakan untuk mencari informasi, sekarang teknologi mulai terintegrasi langsung ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada 6 September 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melaporkan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran telah membawa perubahan pada ruang belajar di berbagai daerah.
Pada 2025, program revitalisasi menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Pemerintah juga mendistribusikan Interactive Flat Panel atau IFP ke sekolah sebagai bagian dari percepatan digitalisasi pembelajaran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan:
“Alhamdulillah tahun 2025 revitalisasi 16.167 satuan pendidikan berjalan dengan lancar, demikian pula distribusi IFP ke sekolah-sekolah.”
Papan interaktif memungkinkan guru menampilkan video, gambar, simulasi, presentasi, dan berbagai materi digital di kelas. Teknologi tersebut juga dapat membuat proses pembelajaran lebih visual serta mendorong keterlibatan peserta didik.
Program digitalisasi juga terus diperluas. Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen menyebut 148.961 sekolah dasar menjadi sasaran bantuan digitalisasi pembelajaran pada 2026.
Dari Buku Digital hingga Pembelajaran Berbasis AI
Perubahan teknologi pendidikan tidak berhenti pada penggunaan layar interaktif.
Saat ini, peserta didik dapat memanfaatkan berbagai teknologi seperti buku elektronik, video pembelajaran, aplikasi pendidikan, perpustakaan digital, platform kelas daring, simulasi virtual, dan sistem pembelajaran berbasis internet.
Teknologi juga memperluas pilihan bagi guru. Materi yang sebelumnya hanya disampaikan melalui buku dan papan tulis kini dapat dikombinasikan dengan animasi, gambar, permainan edukasi, kuis interaktif, serta sumber belajar dari berbagai wilayah.
UNESCO mencatat bahwa penggunaan teknologi digital dalam pendidikan telah berkembang secara luas selama sekitar dua dekade terakhir. Jumlah peserta Massive Open Online Courses atau MOOCs, misalnya, meningkat dari hampir tidak ada pada 2012 menjadi sedikitnya 220 juta peserta pada 2021.
Namun, perkembangan terbaru yang paling banyak mendapat perhatian adalah kecerdasan artifisial generatif.
Laporan OECD Digital Education Outlook 2026 menunjukkan bahwa 37 persen guru sekolah menengah pertama dalam survei TALIS 2024 telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka. Selain itu, 57 persen guru menilai AI membantu dalam menulis atau memperbaiki rencana pembelajaran.
AI dapat membantu guru membuat rancangan materi, memberikan ide latihan, menyesuaikan aktivitas belajar, atau membantu peserta didik memperoleh penjelasan tambahan.
Meskipun demikian, penggunaan teknologi tersebut membutuhkan aturan dan pendekatan yang tepat.
AI Tidak Otomatis Membuat Siswa Lebih Pintar
Kemudahan penggunaan AI juga membawa pertanyaan baru bagi dunia pendidikan.
OECD menemukan bahwa penggunaan AI generatif dapat meningkatkan hasil pekerjaan siswa, tetapi peningkatan hasil tugas tersebut tidak selalu berarti terjadi peningkatan kemampuan belajar.
Ketika AI digunakan tanpa tujuan pedagogis yang jelas, siswa berisiko menyerahkan terlalu banyak proses berpikir kepada teknologi. Sebaliknya, AI yang dirancang dan digunakan dengan tujuan pendidikan dapat membantu meningkatkan pengetahuan, kemampuan argumentasi, kreativitas, dan pembelajaran kolaboratif.
Kekhawatiran terhadap integritas akademik juga cukup tinggi. Data OECD menunjukkan sekitar 72 persen guru sekolah menengah pertama yang disurvei menilai AI berpotensi mengganggu integritas akademik karena siswa dapat menyerahkan pekerjaan yang bukan sepenuhnya hasil pemikirannya sendiri.
Karena itu, teknologi tidak cukup hanya tersedia. Guru dan siswa juga perlu memahami kapan dan bagaimana teknologi sebaiknya digunakan.
Indonesia Mulai Mengatur Pemanfaatan Teknologi dan AI
Perkembangan AI ikut mendorong munculnya aturan baru dalam pendidikan Indonesia.
Pada Maret 2026, pemerintah menetapkan pedoman nasional mengenai pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Pedoman tersebut diarahkan agar teknologi digunakan sesuai prinsip perlindungan anak dan tujuan pendidikan nasional. Pemerintah juga menekankan bahwa penerapan teknologi digital dan AI perlu dilakukan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Selain itu, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial mulai dihadirkan dalam pendidikan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia yang semakin berbasis teknologi.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa proses pembelajaran dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, mulai dari kegiatan tanpa perangkat digital, penggunaan komputer atau tablet, hingga pembelajaran berbasis internet.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan bukan sekadar memberikan perangkat kepada sekolah. Kemampuan guru mengintegrasikan teknologi dengan metode mengajar menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Teknologi Membuka Akses Belajar Lebih Luas
Salah satu manfaat terbesar teknologi digital adalah kemampuannya memperluas akses terhadap pengetahuan.
Siswa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada materi yang tersedia di ruang kelas. Internet memungkinkan mereka mengakses perpustakaan digital, video pendidikan, jurnal, kursus daring, hingga berbagai sumber pembelajaran dari seluruh dunia.
UNESCO menyebut teknologi digital telah meningkatkan akses terhadap sumber pengajaran dan pembelajaran secara signifikan. Namun, hasil penggunaannya berbeda-beda tergantung konteks, kualitas materi, kesiapan guru, dan cara teknologi diterapkan.
Dengan demikian, keberadaan perangkat digital tidak otomatis meningkatkan prestasi siswa.
Sebagai contoh, UNESCO mencatat program distribusi lebih dari satu juta laptop di Peru tidak menghasilkan peningkatan pembelajaran ketika perangkat tersebut tidak terintegrasi secara efektif dengan pendekatan pedagogis.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas penggunaan teknologi lebih penting daripada sekadar jumlah perangkat yang tersedia.
Kesenjangan Digital Masih Menjadi Tantangan
Di balik manfaatnya, digitalisasi pendidikan menghadapi persoalan besar berupa kesenjangan akses.
Tidak semua siswa memiliki komputer, perangkat seluler, listrik yang stabil, atau koneksi internet yang memadai.
UNICEF menyebut sekitar 1,3 miliar anak usia sekolah di dunia masih tidak memiliki koneksi internet di rumah. Kondisi tersebut membatasi peluang mereka dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan berbasis digital.
Kesenjangan juga terlihat di lingkungan sekolah.
UNESCO melaporkan bahwa secara global hanya sekitar 40 persen sekolah dasar, 50 persen sekolah menengah pertama, dan 65 persen sekolah menengah atas yang terhubung ke internet.
Artinya, transformasi digital belum dirasakan secara merata.
Selain infrastruktur, kemampuan menggunakan teknologi juga menjadi tantangan. Sekolah membutuhkan guru yang memiliki keterampilan digital sekaligus kemampuan pedagogis agar teknologi benar-benar mendukung proses belajar.
Peran Guru Tetap Menjadi Kunci
Meningkatnya kemampuan teknologi memunculkan pertanyaan mengenai masa depan profesi guru.
Namun, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa teknologi lebih efektif ketika digunakan untuk memperkuat peran guru, bukan menggantikannya.
OECD menilai AI pendidikan dapat membantu guru dan tutor meningkatkan kualitas pengajaran. Meski demikian, teknologi sebaiknya tetap digunakan untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa menggantikan kemampuan berpikir siswa maupun hubungan manusia yang menjadi bagian penting dalam pendidikan.
UNESCO juga menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia. Teknologi seharusnya mendukung pendidikan berbasis interaksi manusia, bukan menggantikan hubungan antara guru dan peserta didik.
Dalam praktiknya, guru akan semakin berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memilih informasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Masa Depan Pembelajaran Semakin Digital
Perkembangan teknologi digital diperkirakan terus memengaruhi pendidikan dalam beberapa tahun mendatang.
AI, pembelajaran adaptif, analisis data pendidikan, perangkat kelas interaktif, dan sumber belajar daring akan memberikan lebih banyak pilihan bagi sekolah dan guru.
UNICEF melalui Digital Education Strategy 2025–2030 mendorong pendekatan digital yang berpusat pada manusia dan berbasis pemerataan. Strategi tersebut menempatkan peningkatan hasil belajar sebagai tujuan utama, sekaligus menyoroti pentingnya mengatasi kesenjangan digital berdasarkan kondisi ekonomi, gender, disabilitas, bahasa, dan akses pendidikan.
Oleh sebab itu, arah transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada teknologi terbaru.
Infrastruktur yang merata, kemampuan guru, perlindungan data, keamanan digital, literasi AI, kualitas materi pembelajaran, serta kemampuan berpikir kritis siswa harus berkembang bersama.
Kesimpulan
Teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pendidikan dan pembelajaran. Kelas interaktif, platform daring, sumber belajar digital, hingga kecerdasan artifisial memberikan peluang untuk membuat pendidikan lebih fleksibel, menarik, dan mudah diakses.
Namun, teknologi bukan solusi tunggal bagi seluruh persoalan pendidikan. Kesenjangan internet, kemampuan digital guru dan siswa, keamanan data, integritas akademik, serta penggunaan AI yang bertanggung jawab tetap menjadi tantangan.
Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa banyak perangkat atau aplikasi digunakan, tetapi oleh seberapa efektif teknologi membantu guru mengajar dan membantu siswa benar-benar belajar.
WEBPEDIA — Pusat Informasi Teknologi dan Dunia Digital

