WEBPEDIA 9 September 2026 Password masih menjadi salah satu lapisan utama untuk melindungi akun digital, mulai dari email, media sosial, layanan perbankan hingga aplikasi kerja. Namun, meningkatnya kasus phishing, kebocoran data, dan pencurian kredensial membuat penggunaan password sederhana semakin berisiko. Pakar keamanan kini mendorong masyarakat menggunakan password yang panjang, unik untuk setiap akun, serta mengombinasikannya dengan password manager, autentikasi multifaktor atau teknologi passkey.
Perubahan ini menunjukkan bahwa keamanan akun tidak lagi hanya bergantung pada seberapa rumit sebuah password. Cara pengguna membuat, menyimpan, serta melindungi password juga menjadi bagian penting dari keamanan digital.
Password Masih Menjadi Target Serangan Siber
Password digunakan sebagai bukti bahwa seseorang memiliki hak untuk mengakses sebuah akun. Karena itu, informasi tersebut menjadi salah satu target utama pelaku kejahatan siber.
Pelaku dapat memperoleh password melalui berbagai cara. Salah satu metode yang paling sering digunakan adalah phishing, yaitu membuat pesan atau halaman login palsu untuk menipu pengguna agar memberikan informasi akun mereka.
National Institute of Standards and Technology atau NIST menjelaskan bahwa phishing dapat membuat pengguna tanpa sadar memberikan username dan password kepada penyerang melalui situs yang dibuat menyerupai layanan resmi. Bahkan password yang panjang sekalipun tidak akan memberikan perlindungan maksimal jika pengguna memasukkannya ke situs palsu.
Risiko lainnya berasal dari kebocoran database. Ketika sebuah layanan mengalami kebocoran data, kredensial pengguna dapat jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Masalah menjadi lebih serius apabila seseorang menggunakan password yang sama untuk beberapa akun.
Sebagai contoh, seseorang menggunakan password yang sama untuk email, media sosial, dan sebuah toko online. Apabila password toko online tersebut bocor, penyerang dapat mencoba kredensial yang sama untuk membuka email atau media sosial korban.
Metode tersebut dikenal sebagai credential stuffing.
Password Panjang Kini Lebih Diutamakan
Selama bertahun-tahun, pengguna internet terbiasa dengan aturan bahwa password harus memiliki kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol.
Namun, pendekatan terhadap keamanan password terus berkembang.
NIST kini menekankan bahwa panjang password menjadi salah satu faktor paling penting. Dalam panduan untuk pengguna, NIST merekomendasikan password setidaknya sekitar 15 karakter apabila pengguna masih harus menggunakan password.
Sementara itu, materi keamanan CISA juga mendorong penggunaan password yang panjang, acak, serta berbeda untuk setiap akun.
Artinya, password seperti:
Budi123!
mungkin memenuhi aturan huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol, tetapi masih relatif pendek serta mudah diprediksi.
Sebaliknya, password atau passphrase yang jauh lebih panjang dan tidak berkaitan dengan informasi pribadi akan memberikan ruang kombinasi yang lebih besar.
Passphrase Menjadi Alternatif yang Lebih Mudah Diingat
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah membuat passphrase.
Passphrase merupakan kombinasi beberapa kata yang tidak saling berkaitan sehingga menghasilkan kata sandi panjang tetapi relatif lebih mudah diingat.
Sebagai ilustrasi, pengguna dapat membuat struktur seperti:
Hujan-Kamera-Laut-Buku-Pohon-27
Contoh tersebut hanya digunakan untuk menunjukkan pola dan tidak sebaiknya digunakan sebagai password sebenarnya.
Pengguna sebaiknya membuat kombinasi sendiri yang tidak pernah dipublikasikan dan tidak mudah dikaitkan dengan identitas pribadi.
NIST menyebut penggunaan beberapa kata acak sebagai salah satu cara membuat password panjang yang lebih mudah diingat.
Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, nama pasangan, nama anak, nomor telepon atau nama hewan peliharaan sebaiknya tidak digunakan karena dapat ditemukan melalui media sosial maupun sumber informasi lainnya.
Password Harus Berbeda untuk Setiap Akun
Selain panjang, keunikan password menjadi faktor yang sangat penting.
Satu password sebaiknya hanya digunakan untuk satu akun.
Penggunaan ulang password membuat efek kebocoran data dapat menyebar dari satu layanan ke layanan lainnya.
Misalnya:
- password email berbeda dengan password media sosial;
- password internet banking berbeda dengan password akun belanja;
- password akun pekerjaan berbeda dengan password akun pribadi.
NIST memperingatkan bahwa password yang telah terekspos dalam kebocoran sebelumnya dapat digunakan penyerang untuk mencoba masuk ke layanan lain apabila pengguna menggunakan kredensial yang sama.
Karena itu, membuat satu password kuat kemudian menggunakannya di seluruh akun bukan merupakan strategi keamanan yang baik.
Password Manager Membantu Mengelola Banyak Password
Masalah berikutnya muncul ketika seseorang memiliki puluhan akun digital.
Mengingat password panjang dan unik untuk setiap akun tentu tidak mudah.
Di sinilah password manager dapat digunakan.
Password manager merupakan aplikasi yang dapat membuat, menyimpan, dan mengisi password secara otomatis. Dengan teknologi ini, pengguna tidak perlu mengingat seluruh password akun satu per satu.
CISA menyebut password manager sebagai salah satu solusi untuk membantu pengguna menghasilkan password yang panjang, acak, dan unik, kemudian menyimpannya secara lebih aman.
NIST juga merekomendasikan penggunaan password manager untuk akun yang masih mengharuskan penggunaan password.
Namun, akun password manager sendiri harus mendapatkan perlindungan yang kuat.
Pengguna sebaiknya memiliki master password yang panjang dan unik serta mengaktifkan autentikasi multifaktor apabila layanan tersebut mendukungnya.
Dengan demikian, apabila seseorang mengetahui master password, masih terdapat lapisan keamanan tambahan sebelum database password dapat dibuka.
Mengganti Password Setiap Bulan Tidak Selalu Diperlukan
Praktik lain yang mulai berubah adalah kewajiban mengganti password secara berkala.
Dulu, pengguna sering dianjurkan mengganti password setiap 30, 60, atau 90 hari. Namun, penggantian terlalu sering dapat membuat pengguna memilih pola password yang mudah ditebak.
Contohnya:
KantorJanuari2026!
kemudian berubah menjadi:
KantorFebruari2026!
Pola seperti itu relatif mudah diprediksi.
Panduan NIST tidak menganjurkan layanan memaksa pengguna mengganti password secara rutin tanpa alasan keamanan. Perubahan sebaiknya dilakukan apabila terdapat bukti bahwa password telah bocor atau akun berpotensi mengalami kompromi.
Dengan demikian, prioritasnya bukan seberapa sering password diganti, tetapi apakah password tersebut panjang, unik, tidak bocor, dan disimpan dengan aman.
Jangan Hanya Mengandalkan Password
Password yang kuat tetap dapat dicuri melalui phishing atau malware. Karena itu, pengguna disarankan tidak mengandalkan password sebagai satu-satunya pertahanan.
Salah satu perlindungan tambahan yang penting adalah Multi-Factor Authentication (MFA) atau autentikasi multifaktor.
MFA meminta pengguna memberikan verifikasi tambahan selain password.
Bentuknya dapat berupa:
- aplikasi autentikator;
- kode keamanan;
- perangkat keamanan fisik;
- sidik jari;
- pemindaian wajah;
- atau metode autentikasi lain.
CISA menjelaskan bahwa MFA memberikan lapisan perlindungan tambahan karena seseorang yang berhasil mendapatkan password masih harus melewati tahap autentikasi berikutnya sebelum dapat mengakses akun.
Untuk akun penting seperti email utama, layanan keuangan, media sosial, penyimpanan cloud, dan akun kerja, aktivasi MFA sangat dianjurkan.
Passkey Mulai Menjadi Alternatif Password
Perkembangan teknologi autentikasi juga mulai menghadirkan metode yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap password.
Salah satunya adalah passkey.
Passkey memungkinkan pengguna login menggunakan perangkat yang dimiliki, kemudian memverifikasi identitas melalui PIN perangkat, sidik jari, atau pengenalan wajah.
Berbeda dengan password biasa, passkey menggunakan mekanisme kriptografi dan dibuat secara unik untuk layanan tertentu.
NIST menjelaskan bahwa passkey lebih tahan terhadap teknik phishing karena pengguna tidak perlu mengetikkan sebuah rahasia yang dapat dicuri melalui halaman login palsu.
Google juga telah menyediakan dukungan untuk menyimpan dan menggunakan passkey melalui Google Password Manager serta menyebut teknologi tersebut sebagai metode login yang lebih aman dan mudah digunakan dibandingkan password tradisional.
Meski demikian, password belum akan menghilang dalam waktu dekat karena belum semua website dan aplikasi mendukung sistem passwordless.
Cara Membuat Password yang Lebih Aman
Bagi masyarakat yang masih menggunakan password, sejumlah langkah sederhana dapat meningkatkan perlindungan akun secara signifikan.
Pertama, buat password panjang. Jika memungkinkan, gunakan sekitar 15 karakter atau lebih. Panjang password meningkatkan jumlah kemungkinan kombinasi yang harus ditebak oleh penyerang.
Kedua, gunakan password berbeda untuk setiap akun. Hindari memakai satu kata sandi untuk email, media sosial, layanan keuangan, dan akun lainnya.
Ketiga, hindari informasi pribadi. Nama, tanggal lahir, nomor telepon, alamat, atau nama anggota keluarga dapat lebih mudah diketahui oleh pihak lain.
Keempat, gunakan password manager. Sistem ini membantu menghasilkan dan menyimpan password unik tanpa memaksa pengguna menghafal semuanya.
Kelima, aktifkan MFA. Lapisan keamanan tambahan dapat membantu melindungi akun ketika password telah diketahui pihak lain.
Keenam, waspadai phishing. Jangan memasukkan password setelah membuka tautan mencurigakan dari email, pesan singkat, media sosial, atau aplikasi percakapan.
Ketujuh, gunakan passkey jika tersedia. Teknologi ini dapat mengurangi risiko pencurian kredensial melalui situs login palsu.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Password Bocor?
Apabila terdapat pemberitahuan mengenai kebocoran akun atau aktivitas login yang tidak dikenal, pengguna perlu bertindak dengan cepat.
Password akun tersebut harus segera diganti. Jika password yang sama pernah digunakan di layanan lain, semua akun terkait juga perlu diperbarui.
Selanjutnya, pengguna dapat:
- keluar dari seluruh sesi atau perangkat yang tidak dikenal;
- mengaktifkan autentikasi multifaktor;
- memeriksa alamat email serta nomor telepon pemulihan akun;
- memeriksa aktivitas login;
- menghapus perangkat yang tidak dikenal;
- membuat password baru yang benar-benar berbeda.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap email yang meminta penggantian password. Alih-alih menekan tautan dari pesan mencurigakan, lebih aman membuka website atau aplikasi resmi secara langsung.
Kebiasaan Pengguna Tetap Menjadi Kunci
Perkembangan sistem autentikasi menunjukkan bahwa keamanan digital terus bergerak menuju metode yang lebih praktis sekaligus lebih sulit disalahgunakan.
Namun, teknologi saja tidak cukup.
Pengguna tetap perlu memahami bahwa satu password pendek yang digunakan pada banyak akun dapat membuka jalan bagi serangkaian pencurian data.
Sebaliknya, penggunaan password panjang dan unik, password manager, MFA, kewaspadaan terhadap phishing, serta passkey pada layanan yang mendukungnya dapat memperkuat pertahanan akun.
Kesimpulan
Password masih memainkan peran penting dalam kehidupan digital, tetapi cara mengelolanya telah berubah.
Panduan keamanan modern lebih menekankan panjang dan keunikan password dibandingkan sekadar membuat kombinasi simbol yang sulit diingat. Password juga sebaiknya tidak digunakan sendirian.
Password manager dapat membantu pengguna mengelola banyak kredensial, sementara MFA memberikan lapisan keamanan tambahan. Di sisi lain, perkembangan passkey mulai membuka jalan menuju sistem autentikasi yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada password.
Bagi masyarakat, langkah paling sederhana adalah mulai memeriksa akun penting hari ini: gunakan password berbeda untuk setiap layanan, perpanjang password yang masih terlalu pendek, aktifkan MFA, dan gunakan passkey ketika tersedia.
Dengan kebiasaan tersebut, risiko pembobolan akun akibat kelemahan password dapat ditekan sekaligus membantu membangun kebiasaan keamanan digital yang lebih baik.

