JAKARTA, 10 September 2026 — Aktivitas masyarakat yang semakin bergantung pada internet membuat keamanan akun online menjadi bagian penting dari perlindungan data pribadi. Pengguna email, media sosial, aplikasi perbankan, marketplace, hingga layanan penyimpanan digital perlu menerapkan langkah keamanan sejak awal. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi multifaktor, mengenali phishing, serta menjaga perangkat tetap diperbarui agar risiko pencurian akun dapat ditekan.
Ancaman terhadap akun digital tidak hanya menyasar perusahaan besar. Pengguna individu juga dapat menjadi target ketika pelaku mendapatkan alamat email, kata sandi, kode verifikasi, atau informasi pribadi yang dapat digunakan untuk mengambil alih akun.
Karena itu, memahami cara menjaga keamanan akun online menjadi kebutuhan bagi siapa pun yang menggunakan layanan digital sehari-hari.
Informasi dan panduan mengenai penggunaan teknologi serta keamanan digital juga dapat ditemukan melalui WEBPEDIA.
Pencurian Akun Masih Menjadi Ancaman di Dunia Digital
Akun online sering menyimpan berbagai informasi penting. Email, misalnya, dapat terhubung dengan media sosial, layanan keuangan, penyimpanan cloud, hingga proses pemulihan kata sandi untuk berbagai platform.
Apabila akun utama berhasil diambil alih, penyerang berpotensi mencoba mengakses layanan lain yang menggunakan alamat email atau kata sandi serupa.
Data Verizon dalam 2025 Data Breach Investigations Report menunjukkan bahwa penggunaan kredensial yang telah dikompromikan menjadi jalur akses awal dalam sekitar 22 persen pelanggaran keamanan yang diteliti. Selain itu, unsur manusia terlibat dalam sekitar 60 persen pelanggaran yang dianalisis.
Perkembangan metode penipuan juga terus berubah. Verizon melaporkan dalam temuan DBIR 2026 bahwa serangan rekayasa sosial melalui perangkat seluler, termasuk pesan dan panggilan palsu, menunjukkan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibanding phishing email tradisional.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keamanan akun tidak cukup hanya bergantung pada satu lapisan perlindungan.
Gunakan Kata Sandi yang Panjang dan Unik
Langkah pertama adalah menggunakan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun.
Menggunakan satu kata sandi yang sama di berbagai layanan dapat meningkatkan risiko. Jika kredensial dari satu layanan bocor, penyerang dapat mencoba kombinasi email dan kata sandi tersebut pada platform lainnya. Metode seperti ini sering dikaitkan dengan serangan credential stuffing.
NIST menekankan bahwa panjang merupakan faktor penting dalam kekuatan kata sandi. Panduan NIST saat ini merekomendasikan kata sandi setidaknya 15 karakter ketika digunakan sebagai satu-satunya faktor autentikasi.
Pengguna juga dapat memakai passphrase, yaitu gabungan beberapa kata yang cukup panjang dan lebih mudah diingat.
Namun, hindari menggunakan informasi yang mudah ditebak seperti:
- nama lengkap;
- tanggal lahir;
- nomor telepon;
- nama pasangan atau anggota keluarga;
- nama hewan peliharaan;
- kombinasi seperti “123456” atau “password”.
Selain itu, setiap akun sebaiknya mempunyai kata sandi sendiri.
Gunakan Password Manager
Memiliki puluhan kata sandi berbeda tentu sulit apabila semuanya harus diingat secara manual.
Karena itu, pengguna dapat mempertimbangkan penggunaan password manager. Aplikasi tersebut dapat membantu membuat, menyimpan, dan mengisi kata sandi yang panjang serta unik.
NIST merekomendasikan penggunaan password manager untuk akun yang masih menggunakan kata sandi. Namun, akun utama password manager itu sendiri juga perlu dilindungi secara serius, terutama dengan MFA.
CISA juga memasukkan penggunaan kata sandi kuat dan password manager sebagai salah satu langkah dasar untuk meningkatkan keamanan pengguna internet.
Aktifkan Autentikasi Multifaktor
Kata sandi yang kuat belum tentu cukup jika kata sandi tersebut berhasil dicuri melalui phishing, malware, atau kebocoran data.
Oleh sebab itu, pengguna disarankan mengaktifkan Multi-Factor Authentication (MFA) atau autentikasi multifaktor.
MFA meminta pengguna membuktikan identitas menggunakan lebih dari satu faktor. Selain kata sandi, sistem dapat meminta kode dari aplikasi autentikator, perangkat keamanan, biometrik, atau metode verifikasi lainnya.
CISA menjelaskan:
“Using MFA protects your account more than just using a username and password.”
Dengan demikian, apabila penyerang mengetahui kata sandi, masih terdapat lapisan autentikasi lain yang harus dilewati.
Jika suatu layanan menyediakan beberapa pilihan MFA, metode yang tahan terhadap phishing seperti security key atau teknologi autentikasi modern sebaiknya diprioritaskan dibanding hanya mengandalkan kata sandi. CISA juga mendorong penggunaan metode MFA yang tahan terhadap phishing apabila tersedia.
Jangan Mudah Mengklik Tautan dari Pesan Tidak Dikenal
Phishing menjadi salah satu cara yang digunakan pelaku untuk mendapatkan kredensial pengguna.
Serangan dapat muncul melalui email, SMS, aplikasi percakapan, media sosial, bahkan panggilan telepon. Pesan biasanya dibuat agar korban merasa panik atau harus mengambil keputusan dengan cepat.
Contohnya antara lain pemberitahuan bahwa akun akan diblokir, hadiah palsu, transaksi mencurigakan, atau permintaan untuk segera melakukan verifikasi.
Federal Trade Commission (FTC) menjelaskan bahwa pelaku phishing menggunakan email dan pesan teks untuk mencoba mencuri kata sandi, nomor akun, dan informasi pribadi lainnya.
Karena itu, jangan langsung membuka tautan yang terdapat di dalam pesan mencurigakan.
Jika menerima pemberitahuan mengenai masalah pada akun, buka aplikasi atau situs resmi secara langsung melalui browser. Jangan masuk melalui tautan yang dikirimkan oleh pihak yang belum dapat dipastikan identitasnya.
Jangan Pernah Memberikan Kode OTP
Kode One-Time Password (OTP) merupakan informasi rahasia.
Kode tersebut biasanya digunakan untuk memastikan bahwa orang yang sedang mencoba masuk atau melakukan transaksi memang pemilik akun.
Pelaku penipuan dapat menyamar sebagai petugas bank, layanan pelanggan, perusahaan teknologi, atau pihak lain untuk meminta kode OTP.
Pengguna tidak seharusnya memberikan OTP, kode MFA, PIN, atau kode pemulihan akun kepada orang lain.
Bahkan ketika seseorang mengetahui nama, alamat email, atau sebagian informasi pribadi pengguna, hal tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut merupakan pihak resmi.
Periksa Aktivitas Login Secara Berkala
Banyak layanan digital menyediakan halaman yang menampilkan perangkat dan lokasi yang pernah digunakan untuk masuk ke akun.
Pengguna sebaiknya melakukan pemeriksaan secara berkala.
Perhatikan perangkat yang tidak dikenali, lokasi login yang tidak biasa, perubahan kata sandi yang tidak dilakukan sendiri, atau aktivitas lain yang terlihat mencurigakan.
Jika menemukan aktivitas asing, segera keluarkan perangkat tersebut dari akun dan ubah kredensial keamanan.
Setelah itu, periksa pula email pemulihan, nomor telepon, dan metode MFA untuk memastikan tidak ada perubahan yang dilakukan oleh pihak lain.
Perbarui Sistem dan Aplikasi
Keamanan akun juga dipengaruhi oleh perangkat yang digunakan untuk mengaksesnya.
Sistem operasi, browser, aplikasi, serta perangkat lunak lain perlu diperbarui secara teratur. Pembaruan sering membawa perbaikan untuk kerentanan keamanan yang telah ditemukan.
CISA memasukkan pembaruan perangkat lunak sebagai satu dari empat langkah utama untuk meningkatkan keamanan online, bersama penggunaan kata sandi kuat, MFA, dan kemampuan mengenali phishing.
Mengaktifkan pembaruan otomatis dapat menjadi pilihan praktis agar patch keamanan tidak terlambat dipasang.
Hindari Login Sembarangan di Perangkat Umum
Komputer publik atau perangkat milik orang lain sebaiknya tidak digunakan untuk mengakses akun sensitif apabila tidak benar-benar diperlukan.
Pengguna tidak dapat memastikan apakah perangkat tersebut bebas dari malware, keylogger, atau perangkat lunak lain yang dapat merekam informasi login.
Selain itu, jangan menyimpan kata sandi pada browser di perangkat bersama.
Setelah menggunakan perangkat yang bukan milik pribadi, pastikan keluar dari akun dan hapus sesi login jika layanan menyediakan pilihan tersebut.
Pisahkan Email Utama untuk Akun Penting
Pengguna yang memiliki banyak layanan digital dapat mempertimbangkan pemisahan alamat email.
Sebagai contoh, satu email dapat digunakan khusus untuk akun penting seperti perbankan, layanan bisnis, password manager, dan akun utama. Sementara itu, alamat email berbeda dapat digunakan untuk forum, newsletter, atau pendaftaran layanan umum.
Cara tersebut tidak menjamin akun bebas dari serangan. Namun, pemisahan dapat membantu mengurangi keterkaitan antara akun penting dengan layanan publik yang lebih sering digunakan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Akun Sudah Diretas?
Apabila terdapat indikasi akun telah diambil alih, pemilik akun sebaiknya segera bertindak.
Pertama, ubah kata sandi melalui perangkat yang dipercaya. Selanjutnya, keluarkan semua sesi atau perangkat yang sedang login.
Aktifkan atau atur ulang MFA. Kemudian, periksa apakah email pemulihan dan nomor telepon masih menggunakan data milik sendiri.
Jika kata sandi yang sama pernah digunakan pada akun lain, segera ganti kata sandi akun tersebut.
Pengguna juga perlu memperhatikan pesan yang dikirim dari akun selama periode pengambilalihan. Pelaku dapat menggunakan akun korban untuk menghubungi teman, keluarga, pelanggan, atau rekan kerja.
Jika akun tidak lagi dapat diakses, gunakan sistem pemulihan resmi yang disediakan platform dan hindari layanan pihak ketiga yang tidak jelas.
Kebiasaan Sederhana Bisa Mengurangi Risiko
Menjaga keamanan akun online tidak harus dimulai dengan teknologi yang rumit.
Kebiasaan sederhana seperti menggunakan kata sandi panjang dan unik, memakai password manager, mengaktifkan MFA, tidak memberikan OTP, mengenali phishing, memeriksa aktivitas login, dan memperbarui perangkat dapat memberikan perlindungan yang lebih baik.
Pendekatan tersebut sejalan dengan panduan keamanan dasar CISA yang menekankan kata sandi kuat, MFA, kewaspadaan terhadap phishing, dan pembaruan perangkat lunak sebagai langkah penting bagi pengguna internet.
Kesimpulan
Keamanan akun online merupakan tanggung jawab yang perlu diperhatikan setiap pengguna internet. Ancaman seperti pencurian kredensial, phishing, dan rekayasa sosial terus berkembang seiring semakin banyaknya aktivitas yang berpindah ke layanan digital.
Tidak ada satu metode yang dapat memberikan perlindungan sempurna. Namun, penggunaan beberapa lapisan keamanan dapat memperkecil kemungkinan akun diambil alih.
Karena itu, pengguna sebaiknya mulai dengan memperkuat kata sandi, mengaktifkan MFA, menjaga kerahasiaan OTP, serta lebih berhati-hati ketika menerima pesan atau tautan yang meminta informasi pribadi.
Untuk membaca informasi lainnya mengenai keamanan, teknologi, aplikasi, website, SEO, dan perkembangan dunia digital, kunjungi WEBPEDIA – Pusat Informasi Teknologi dan Dunia Digital.

